Berita Terbaru

6/recent/ticker-posts

Harga Komoditas Sawit Semakin Seksi


Oleh: (Naim, M.Pd)
Pada tanggal 18 April 2022, saya pulang ke kampung halaman tepatnya di di Desa Pematang Rambai Kec. Kuala Mandor B Kabapaten Kuburaya Kalimantan Barat, setiba di Bandara Internasional Supadio Pontianak saya langsung meluncur menuju rumah di desa, perasaan bahagia begitu kental terasa, terbayang wajah kedua orang tua  dan kedua adik yang telah menunggu lama, tidak pulang karena urusan kerja dan diperparah lagi karena pandemi covid 19 yang tak kunjung reda. Mendekati rumah, saya melihat hamparan kebun kelapa sawit yang menghampar luas, merasa tertarik dan penasaran, maka saya sempatkan untuk berhenti sejenak di bahu jalan untuk mengamati para pekerja, pekerja kelapa sawit yang hilir mudik mengumpulkan sawit yang telah dipanen dan ditumpuk di samping truk pengangkut yang telah menunggu, begitu truk terisi penuh langsung berangkat ke gudang pengolah kelapa sawit yang letaknya hanya berjarak sekitar 1 km dari saya bertemu dengan para pekerja.

Baca Juga: Mekanik Moral

Beberapa pekerja berhasil saya temui dan bersedia untuk dimintai beberapa pertanyaan mendasar seputar berapa harga sawit, berapa lama masa tunggu dari awal tanam hingga panen, bagaimana merawatnya, siapa yang mengelolanya dan masih banyak lagi.

Dari hasil diskusi dengan beberapa pekerja tersebut maka diperoleh beberapa informasi, diantaranya yaitu harga kelapa sawit jika dibandingkan dengan 2 tahun lalu (2020) maka harga saat ini sangat bagus, jika di rata-rata maka harga berada dikisaran Rp. 3000 – 3.500/kg sawit. sementara pada tahun 2020 harga sawit berada di harga Rp. 800 – 1.000. dengan harga sawit yang sangat bagus ini, banyak masyarakat yang beralih profesi, semula mereka menoreh/menyadap karet sebagai pekerjaan utama, kini mereka berlomba-lomba mengganti komoditas karet dengan komoditas sawit, banyak kebun karet mereka tebang dan menggantinya dengan tanaman sawit, masa tunggu dari awal tanam hingga panen perdana jika mengunakan bibit dengan ketinggian bibit 20 cm maka dalam kurun waktu 3 – 4 tahun sudah bisa merasakan hasilnya.


Ilustrasi

Perawatan kelapa sawit hingga panen pun tidak terlalu rumit, (pertama), petani sawit harus melakukan penyesuaian dengan lingkungannya, karena masing-masing daerah memiliki kontur dan jenis tanah yang berbeda, (kedua) petani harus melakukan pengendalian gulma secara intensif, membersihkan gulma di sekitar pohon sawit sangat perlu dilakukan karena berkaitan dengan hasil dan kualitas buah yang bagus, (ketiga)  memberi pupuk secara berkala serta memperhatikan dosis pupuk yang tepat seperti pupuk urea, ZA, KCI, dolomit, TSP, dan borate, (keempat)  pengaturan jarak antar pohon yang sesuai agar saat pohon sawit memasuki usia dewasa dan siap berbuah tidak mengalami penyempitan pada pelepah daun yang tentu saja akan berpengaruh terhadap kualitas buah sawit itu sendiri, dan yang ke (lima) adalah proses pemanenan yang benar, jika menggunakan cara  yang salah maka bisa jadi tanaman mengalami stres yang tentu saja berakibat kepada pohon sawit yang enggan mengeluarkan bunga lagi sebagai calon bakal buah berikutnya.

Baca Juga: Bisnis Sawit

Setelah penulis menganalisis dan menelaah penyebab kenaikan harga komoditas sawit yang sangat mengiurkan ini, maka diperolehlah beberapa informasi yang sangat baik yaitu, pada awal tahun 2022 Indonesia sedang mengalami penurunan pasokan buah sawit sebagai bahan utama pembuat minyak goreng (crude palm oil/CPO) sementara di tahun yang sama pemerintah membuat kebijakan untuk memproduksi minyak goreng secara besar-besaran untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Selain itu pemerintah juga membuat kebijakan wajib pasok kebutuhan dalam negeri (domestic obliation/DMO) yang tentu saja diikuti dengan (domestic price obligation/DPO). Denan DMO, eksportir minyak goreng wajib memasok CPO setara 20% dari volume total ekspornya. Penyebab naiknya harga komoditas sawit lainnya yaitu pemerintah yang mengumumkan (februari 2022) untuk merencanakan uji jalan atau road test kendaraan berbahan bakar biodiesel campuran minyak sawit 40% (B40), yang pengujian laboratorium untuk pemanfaatanya sudah berjalan sejak tahun 2020 hingga 2021.

Proram pemerintah di era Bapak Jokowi tersebut dikenal di masyarakat yang menjadi pemicu terjadinya harga komoditas kelapa sawit semakin berpihak kepada rakyat kecil. Masyarakat petani kelapa sawit tentu sangat berharap agar harga komoditas sawit ini terus stabil dalam kurun waktu yang lama, sehingga dampak positifnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Kalimantan Barat.

Di sisi lain penulis juga berhadap, semoga pemerintah terus melakukan inovasi-inovasi lainnya dan tentu saja mengurangi impor komoditas lainya dan memaksimalkan produk dalam negeri sehingga dapat mendongkrak harga komoditas-komoditas yang lain seperti cengkeh, vanila, kelapa, singkong, padi, garam, lobster, rotan, padi dan masih banyak lagi lainnya.

(Naim, M.Pd) Dosen Pendidikan Ekonomi Universitas PGRI Kanjuruhan Malang.


Saksikan juga: 

  1. Menggabungkan beberapa file menjadi satu
  2. Urgensi memahami surat
  3. Kini teknologi itu pintu dunia
  4. Pemimpin dan kepemimpinan
  5. Mengaktifkan komentar di Youtube

 


Posting Komentar

0 Komentar