Lahirnya Pancasila menjadi angin segar bagi Rakyat Indonesia setelah ratusan tahun dijajah oleh bangsa asing, bukan tanpa sebab, Indonesia sudah cukup menderita dengan semua kelicikan para kaum penjajah terhadap penduduk asli pribumi, para penjajah memanfaatkan “kepolosan” rakyat Indonesia untuk kepentingan mereka, melakukan adu domba sehingga sesama rakyat Indonesia saling menghancurkan.
Hingga pada akhirnya pada tanggal tanggal 1 Juni 1945 Soekarno menyampaikan gagasannya yang dinamakan “Pancasila”. Pada hari yang sama, Soekarno juga menyebutkan lima dasar untuk negara Indonesia yang kemudian kita kenal dengan rumusan Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945 hingga rumusan final tanggal 18 Agustus 1945 adalah satu kesatuan proses lahirnya Pancasila sebagai Dasar Negara.
Baca juga: Rasa Khidmat Webinar Nasional
Kini, Indonesia telah merasakan manisnya sebuah “kemerdekaan” dari penjajah asing konvensional yakni dari penjajahan bersenjata Belanda dan Jepang. Tugas kita saat ini adalah bagaimana kita terus mengamalkan nilai-nilai “Pancasila” ini dengan damai, sejuk dan menenangkan, ini jelas bukan pekerjaan mudah dan bukan hanya tugas pemerintah namun tugas kita semua sebagai bagian dari elemen bangsa.
Kita bangsa yang besar, harus berfikir besar sehingga kita bisa sejajar dengan Negara-negara lain, kita sudah saatnya bangkit dan meninggalkan gesekan-gesekan demi kepentingan pribadi maupun golongan.
Baca juga: Menulis Skripsi Itu Mudah
Nilai-nilai Pancasila yang harus kita amalkan
1. Ketuhanan yang maha esa
Kita merdeka dari penjajahan kala itu karena semua elemen saling bahu membahu, saling menguatkan tanpa melihat latar belakang agama, pendidikan, suku dan lain-lain, yang kita tahu saat itu adalah bagaimana caranya agar bangsa ini segera terlepas dari cengkeraman penjajah. Soal keyakinan biarkan Tuhan sang pencipta alam dan seisinya yang menjadi sang Maha Hakim kelak.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradap
Memanusiakan manusia adalah teori fundamental yang harus ditanamkan dalam hati sanubari kita sebagai mahluk social yang berakal. Untuk itu dimanapun dan kapanpun kita berada senantiasa terus mengamalkan sila kedua ini tanpa melihat latar belakangnya, menebarkan adab/etika dan keadilan kepada sesama menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
3. Persatuan Indonesia
Jika sila ke satu dan kedua telah diamalkan dengan baik, maka tentu negeri ini akan menemukan yang namanya persatuan Indonesia, jika ada gejolak dilapisan masyarakat paling bawah maka kita harus mensikapi dengan tenang dan cari penyebabnya, apakah ada ketidak adilan disana, adakah yang luput dari perhatian atau yang lainya. Karena pada prinsipnya jika manusia itu telah terpenuhi semua apa yang dibutuhkan maka akan cenderung tenang.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh khidmad kebijaksanaan dalam permusyawatan perwakilan
Rakyat dipimpin oleh pemimpin yang bijaksana dan mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan persoalan bangsa, sebenarnya pemimpin bijaksana dan sempurna ini sangat sulit kita definisikan, karena masing-masig orang akan memiliki pandangan dan definisi sendiri, sehingga menjadi sangat wajar jika pemimpin di Indonesia ini ada yang menilai “tidak ada pemimpin yang sempurna”, namun setidaknya kebutuhan pokok seperti (sadang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan) terjangkau maka itu sudah bisa dikatakan “pemimpin yang mendekati sempurna”. Semua pemimpin memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing, kata kuncinya adalah tidak ada pemimpin yang akan menghancurkan negaranya sendiri.
Baca juga: Kearifan Lokal Pasola
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Jika sila ke satu hingga empat terpenuhi maka tentu akan terjadi yang namanya rasa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, karena semua rakyat Indonesia istimewa, semua memiliki peluang yang sama, dan itu sudah tertuang dalam UUD 1945 yaitu “Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”, amanat ini sungguh sempurna, tidak ada lagi keraguan untuk memperlakukan seluruh rakyat Indonesia dengan adil dan penuh martabat.
Konklusi
Jadikan hari kelahiran Pancasila ini sebagai ajang evaluasi diri, mulai dari individu, keluarga, masyarakat hingga pada tataran pemerintah kelurahan, kecamatan, kota, propinsi dan nasional. Jangan mencari perbedaan namun bangunlah kemajemukan ini dengan penuh toleransi dan saling melengkapi, jika itu kita lakukan maka tentu rasa persatuan dan kesatuan akan tercipta dengan sendirinya. Terutama menjelang Pilpres pada tahun 2024, kita sebagai bangsa yang besar maka kita harus bersikap lebih dewasa dan harus bijaksana dalam perbedaan pilihan. Bukankah kita lahir dari perbedaan ? bukankah kita merdeka dari unsur yang berbeda-beda pula ? untuk itu tidak ada alasan lagi mengklaim bahwa “golongan saya yang paling baik, golongan saya yang paling berjasa. Ingat taman indah karena adanya perbedaan jenis bunga yang terdapat disana. Jayalah negeriku, Jayalah Indonesiaku
Simak juga:
- Hukum bisnis
- Membuat akun google scholar
- Kepemimpinan
- Cara mudah dowload artikel
- Perbedaan jurnal dan artikel
Profil penulis
- Naim, M.Pd (dosen Pendidikan Ekonomi Universitas PGRI Kanjuruhan Malang)
- Dewan Pertimbangan HMPS Pend. Ekonomi Universitas PGRI Kanjuruhan Malang.
- Sekjen Yayasan Putra Khatulistiwa Malang (YPKM).
- Sekretaris IARMI Dewan Pimpinan Kota Malang.
- Owner Konveksi Wira@lhamd Malang.

0 Komentar