![]() |
| Roudhatul (Prodi Manajemen) |
Siapa yang tahu tentang Tari Legong Keraton? di era modern seperti saat ini mungkin sebagian dari kalian pasti asing dengan nama tarian satu ini. Tari Legong ini sepertinya belum banyak di ketahui oleh masyarakat, khususnya di luar ilayah Bali. Memang tarian ini tidak sepopuler Tari Pendet ataupun Tari Kecak. Namun, tari satu ini tidak kalah indah dan unik dibandingkan dengan dua tarian tadi. Tari Legong Keraton ini memiliki banyak keunikan mulai dari sejarah, makna, riasan, busana, dan lain lain.
Tari Legong berasal dari lingkungan keraton yang ada di Bali pada abad ke-19. Berdasarkan sejarahnya, tarian ini tercipta dari mimpi seorang pangeran. Dalam mimpi tersebut, pangeran melihat dua penari yang menari dengan anggun. Tarian tersebut diiringi oleh musik khas Bali. Dari mimpi tersebut, kemudian tarian itu diajarkan oleh pangeran kepada para wanita yang ada di kerajaan.
Tarian yang sangat indah ini mengandung makna keagamaan dan sejarah dalam Budaya Bali. Makna dari Tari Legong sendiri adalah sebagai simbol rasa syukur masyarakat Bali terhadap nenek moyang mereka. Tarian ini hanya dipentaskan di pura untuk mengiringi upacara upacara agama Hindu. Pada tahun 1928, Raja mengijinkan tarian ini dipentaskan di luar kerajaan agar dapat dinikmati oleh rakyatnya. Pada tahun 1931, tarian ini mulai dipertunjukkan untuk hiburan ataupun penyambutan wisatawan di Bali.
Tak hanya sejarah dan maknanya saja yang perlu di ketahui, tetapi tarian ini juga memiliki beberapa keunikan yang pastinya sangat menarik. Pertama, mengapa tarian ini di juluki "Legong Keraton" ?, karena tarian ini dulunya hanya di pertunjukan di dalam keraton saja. Kedua, fakta unik tentang penarinya yaitu penari yang masih gadis atau belum datang bulan, karena dianggap masih suci. Ketiga, tarian ini hanya dimainkan oleh dua penari. Keempat, campuran antara budaya Hindu dan Islam yang tercermin dari gambuh yang digunakan. Kelima, dimainkan di bawah bulan purnama, mengapa demikian? karena hal ini sudah menjadi adat istiadat masyarakat sekitar.
Editor: Naim

0 Komentar