![]() |
| Oleh: Rani Tri Cahyani |
Keren! memasuki minggu-minggu terakhir kegiatan tim PLP Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas PGRI Kanjuruhan Malang telah menjalankan tugas dengan semaksimal mungkin pada semua layanan yang ada. Waktu yang singkat namun penuh kesan bagi praktikan di lapangan, dimulai dari langkah awal observasi dan penyebaran istrumen non-tes yang bertujuan sebagai penggalian informasi kebutuhan siswa dalam penyusunan program layanan Bimbingan dan Konseling. Selain itu juga banyak variasi pemberian layanan yang diberikan guna meminimalisir metode layanan yang dirasa monoton.
![]() |
(Dokumentasi mahasiswa dan DPL BK) |
Bimbingan dan Konseling (BK) sebagai komponen penting dalam satuan pendidikan. Bidang yang kompleks antara Pribadi, Sosial, Karir, dan Belajar sebagai tugas yang harus diperhatikan seorang konselor dalam membantu siswanya untuk dapat mencapai perkembangan yang optimal perlu selalu diperhatikan. Menjadi teman bagi siswa, bukan sebagai guru yang dipandang "garang" adalah goals yang diharapkan. Sebagai langkah awal konselor harus mampu melakukan pendekatan secara persuasif kepada seluruh siswa untuk mematahkan pandangan negatif pada pelayanan bimbingan konseling.
Melalui pendekatan yang humanis dan bersahabat, maka terbentuklah ketertarikan siswa terhadap pelayanan BK di sekolah, siswa mulai memberbaur dan menyampaikan banyak cerita kepada para praktikan dengan leluasa baik di kelas maupun di luar kelas. Hal tersebut berdampak positif juga bagi pemberian layanan klasikal di dalam kelas yang mana siswa menjadi antusias pada saat layanan diberikan. Ada beberapa layanan yang telah diberikan diantaranya: Instrumen non-tes yang digunakan sebagai langkah awal penggalian informasi kebutuhan siswa yaitu angket kebutuhan peserta didik (AKPD), Studi Habbis, dan Who Am I. Instruemen yang telah diberikan kepada siswa harapannya ialah bisa menjadi dasar dan tentu saja dapat memudahkan konselor dalam penyusunan program layanan bimbingan dan konseling.
Selajutnya koseling individual, konseling individu ini merupakan layanan konseling yang dilakukan dengan cara face to face (tatap muka), tujuannya ialah menekankan pada interaksi langsung secara mendalam antara konselor dengan konseli serta membahas berbagai persoalan yang dialami oleh konseli dalam rangka pengentasan masalah.
Bimbingan dan Konseling Klasikal. Metode ini merupakan kegiatan yang dilaksanakan dalam seting kelas yang mana guru konselor dan konseli/siswa bertemu langsung dan berinterakasi di dalam kelas. adapun fungsi dari layanan klasikal ini sebagai pencegahan, pemahaman, serta pengembangan siswa sesuai topik yang diberikan. Topik-topik yang telah diberikan, seperti kesulitan belajar, konsep diri remaja, jendela johari, bekerja sebagai panggilan hidup, permainan simulasi, hingga menonton film.
Dari kegiatan layanan klasikal ini, siswa juga diminta untuk mengerjakan LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik) sebagai bahan dalam mengembangkan keterampilan, mengaktifkan siswa dalam proses kegiatan layanan setelah kegiatan berlangsung.
Dari beberapa kegiatan layanan yang telah diberikan, antusiasme siswa terhadap bimbingan dan konseling semakin meningkat, itu semua dapat dilihat dari semangat dalam turut sertanya siswa pada saat kegiatan layanan bimbingan dan konseling dilaksanakan, yan tentu saja dampak positifnya ialah siswa juga lebih dekat dengan para praktikan dan guru bimbingan dan konseling.
Editor: Naim







0 Komentar