Berita Terbaru

6/recent/ticker-posts

FILOSOFI TERAS : Hidup Santuy seperti Para Stoic

Oleh:  Rani Tri Cahyani / Prodi BK

Fundamen Cendikia Bangsa: Sering kali kita merasa cemas tentang semua hal yang terjadi maupun belum terjadi, hal tersebut tentu akan bermuara pada ketidak stabilan dalam mengendalikan fikiran dan emosi kita. Baru-baru ini ada satu topik yang ramai manjadi perbincangan oleh banyak kalangan. Topik itu bernama overthinking

Overthinking merupakan kondisi seseorang yang memiliki kecenderungan memikirkan suatu permasalahan dengan porsi yang berlebihan, situasi atau kejadian secara berlebihan dan terus-menerus itu tentu sangat tidak baik bagi setiap orang. Kondisi ini dapat menganggu kestabilan perilaku, fikiran dan mental seseorang, pasalnya overthinking mampu menghadirkan kecemasan dan stress yang berlebih sehingga berdampak pada emosi  negatif. Maka dari itu overthinking juga dapat disebut sebagai monster yang mnipulatif bagi diri seseorang. 


Lalu bagaimana cara agar kita menjadi pribadi 'santuy' di tengah gempuran situasi yang  tak diharapkan ini? Belajar dari salah satu buku self improvement yang telah mendapat predikat 'Mega Best Seller' yaitu “Filosofi Teras”, karya Henry Manampiring. Buku Filosofi Teras adalah salah satu buku tentang filosofi Yunani-Romawi Kuno. Mendengar kata “Filosofi” saja pasti sebagian banyak orang akan terbesit pengajaran yang rumit, menjenuhkan, kuno dan susah dimengerti. 

Namun, melalui buku ini “Filosofi Teras”, sang penulis mampu mengemasnya dengan bahasa yang ringan sehingga memudahkan pembaca khususnya para anak muda dalam memahami setiap kalimat yang disuguhkan. Buku Filosofi Teras menyita banyak perhatian para pecinta litrasi dengan tips hidup dalam ketenangan serta terbebas dari emosi negatif yang mampu memunculkan kondisi mental tangguh dalam menghadapi naik-turunnya kehidupan. 

Dalam buku ini para stoic (sebutan para penganut filosofi teras) mengajarkan kepada kita semua, bahasa sederhananya seperti ini "Hidup tuh gausah dibikin ribet ah.. " Kenapa demikian? salah satu filsuf stoic berpendapat bahwa "kita sebagai manusia memiliki kebiasaan membesar-besarkan masalah dan perasaan sedih, Sehingga kita lebih disusahkan oleh kekhawatiran dan perasaan kita sendiri" (Seneca). Mengacu pada statement di atas, Coba kita berpikir lagi dan memaknai kalimat tersebut dengan pola pikir dan wawasan yang lebih luas sehingga kita akan lebih tenang dan bijaksana dalam menghapi setiap permasalahan hidup yang sedang kita hadapi.

Terkadang secara sadar atau pun tidak, cara pandang kita yang keliru atas peristiwa hidup menyebabkan kita menjadi stres, gelisah, depresi atau marah-marah tanpa sebab yang jelas, jika di ilmu psikologi kondisi tersebut berawal dari pemikiran yang irasional. Pemikiran irasional adalah lawan dari pemikiran rasional, artinya pemikiran ini bertentangan dengan pemikiran yang mementingkan akal maupun logika.  Hal yang akan terjadi jika pemikiran ini tidak terkendali adalah meledaknya emosi negatif dalam diri individu. Lohh bukannya emang kita boleh ya buat marah kan bisa menenangkan diri karena apa yang menjanggal akan terbebaskan? Tidak ada yang melarang seseorang untuk marah kok karena itu adalah salah satu bentuk pertahanan diri kita, namun emosi negatif yang terlalu sering di luapkan dengan pemikiran yang irasional akan menimbulkan dampak buruk yang lainnya misalnya malah jadi adu mekanik sama orang lain, perkelahian sampai pertikaian, belum lagi kalo bikin darah naik (amit-amit).  

Jadi, di sini kita juga perlu melatih manajemen konfik dan emosi. Saya adalah salah satu pembaca buku “Filosofi Teras” dan saya banyak belajar bagaimana cara mengkontrol diri agar tidak termakan oleh emosi negatif yang disebabkan oleh “overthinking”. overthinking ini yang menjadi salah satu faktor munculnya pemikiran irasional tersebut, bagaimana tidak gara-gara dia hadir tuh saya sering memikirkan hal-hal buruk yang belum pernah dan bahkan belum tentu terjadi. 

Dalam upaya mengontrol emosi, kita harus memahami terlebih dahulu hal-hal yang ada di bawah kendali kita (opini, presepsi, tujuan, keinginan, tindakan diri kita) dan yang tidak dibawah kendali kita (tindakan orang lain, opini orang, kesehatan, kekayaan, cuaca, jenis kelamin, dan banyak lagi). Selanjutnya ialah tindakan kita mulai merasakan emosi negatif dengan teknik S.T.A.R yang dijelaskan oleh Henry. S.T.A.R adalah akronim dari Stop,Think & Assess, Respond). 

Contoh kasus untuk menggambarkannya. “Saya adalah seorang mahasiswa semester 5 di salah satu Universitas Di kota Malang dan akan mengikuti matakuliah di jam 11.00 WIB di kelas A2, saya mengupayakan agar saya sampai di kelas dengan tepat waktu. Setelah saya berhasil mengusahakan ternyata dosen datang terlambat kurang lebih 30 menit setelah jam dimulai.” Jika ilustrasi kasus ini terjadi sebelum saya mengenal “Filosofi Teras” kemungkinan besar saya akan emosi dan tidak terima. Bagaimana tidak? Saya sudah datang dengan tergesa-gesa, mandi asal terciprat air ternyata dosennya datang terlambat. 

Deskripsi “Filosofi Teras” pada ilustrasi kondisi di atas yaitu: 

  1. Stop (Berhenti). Saya harus berhenti dari rasa emosi yang dialami, berhenti sejenak hilangkan semua perasaan, mungkin terdengar aneh karena harus berdamai dengan situasi yang dihadapi dalam waktu yang singkat.
  2. Think & Assess (Pikirkan dan Nilai). Setelah menghentikan emosi sejenak, kita dapat memikirkan secara rasional sebagai sarana mengalihkan diri dari emosi, mulailah menilai, apakah perasaan yang saya alami dapat dibenarkan atau tidak, jangan lupa kita pahami juga mana yang ada pada kendali kita dan bukan di bawah kendali kita. Misalnya : (a) Dosen telat bukan di bawah kendali kita, mau marah-marah, datang terlambat, kita tidak tahu apa yang terjadi pada dosen tersebut. (b) Saya bisa bermain dulu dan bercanda bersama teman-teman di kelas atau jajan dulu ke kantin (di bawah kendali).
  3. Respond. Jika sudah dapat berfikir secara rasional maka selanjutnya memunculkan respon apa yang akan kita berikan, dapat berupa tindakan atau ucapan yang mengacu pada hal baik.

 

Visualisasi Implementasi


Melalui buku "Filosofi Teras" harapannya banyak yang terbantu dalam mengatasi gejolak emosi yang dihadapi dengan merespon secara lebih positif didukung oleh pola pikir lebih rasional. Melalui buku "Filosofi Teras" banyak Quote  menarik dan insiratif bagi mental tangguh generasi muda agar tidak “loyo” dikalahkan oleh  “overthinking”.



Editor: Naim

Posting Komentar

0 Komentar