![]() |
| Avriza Prisma (Prodi BK) |
Fundamen Cendikia Bangsa – Masyarakat Jawa dikenal dengan keragaman budaya yang kaya, yang diwariskan oleh nenek moyang sejak zaman dahulu. Keragaman ini mencakup berbagai aspek seperti bahasa, adat istiadat, dan tradisi kesenian. Namun, dengan perkembangan zaman yang begitu pesat, ada kekhawatiran bahwa tradisi-tradisi ini dapat terkikis dan dilupakan. Oleh karena itu, warga Desa Jatisari, Kecamatan Pakisaji, menemukan cara yang unik untuk merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-79, sekaligus memperkuat identitas budaya Jawa. Melalui kegiatan ini, panitia berharap para pemuda dan pemudi desa yang merupakan generasi penerus bangsa, dapat lebih mengenal dan mencintai budaya mereka, terutama dalam bidang kesenian.
Pada hari Jumat, 15 Agustus 2024, kegiatan ini mendapat dukungan dari mahasiswa KKN Universitas PGRI Kanjuruhan yang ikut serta sebagai panitia pelaksana. Para mahasiswa terlibat dalam berbagai persiapan, mulai dari rapat pembentukan panitia, penetapan tugas masing-masing bagian, hingga pemasangan panggung dan perlengkapan lainnya. Keterlibatan ini tidak hanya memberikan pengalaman organisasi yang berharga bagi mahasiswa, tetapi juga memperkuat ikatan antara perguruan tinggi dan masyarakat setempat. Semangat gotong-royong yang tercipta dalam persiapan acara ini menunjukkan betapa pentingnya kolaborasi dalam menjaga dan melestarikan budaya.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang perayaan kemerdekaan, tetapi juga sebagai sarana edukasi budaya bagi masyarakat, terutama generasi muda. Dengan menghadirkan kesenian jaranan, panitia ingin menampilkan salah satu seni tradisional Jawa yang kaya akan nilai sejarah dan filosofis. Jaranan, yang dikenal dengan gerakan tari yang dinamis dan kostum yang khas, mampu menarik perhatian berbagai kalangan, dari anak-anak hingga orang dewasa. Hal ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa bangga dan cinta terhadap budaya lokal.
Para mahasiswa KKN Universitas PGRI Kanjuruhan merasa sangat senang dan bangga dapat berpartisipasi dalam acara besar ini. Keterlibatan dalam kegiatan ini memberikan mereka kesempatan untuk belajar, berkolaborasi, dan ikut serta dalam melestarikan budaya lokal, serta menyadarkan akan pentingnya menjaga warisan budaya di tengah arus modernisasi. Mahasiswa yang terlibat tidak hanya belajar tentang organisasi dan manajemen acara, tetapi juga mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang budaya Jawa.
Selain penampilan kesenian jaranan, acara ini juga diisi dengan berbagai lomba tradisional yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Lomba-lomba seperti balap karung, tarik tambang, dan panjat pinang tidak hanya menghibur, tetapi juga mempererat tali silaturahmi antarwarga. Partisipasi aktif dari masyarakat menunjukkan bahwa semangat kebersamaan dan gotong royong masih sangat kental di Desa Jatisari. Dengan adanya acara ini, masyarakat dapat merasakan kembali semangat kemerdekaan yang pernah diperjuangkan oleh para pahlawan.
Pada akhirnya, kegiatan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia di Desa Jatisari ini menjadi contoh nyata bagaimana budaya dan tradisi lokal dapat dihidupkan kembali melalui acara-acara perayaan. Dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk mahasiswa KKN, harapan untuk menjaga dan melestarikan budaya Jawa menjadi lebih nyata. Semoga kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan di masa mendatang, sehingga warisan budaya nenek moyang tetap terjaga dan dapat dinikmati oleh generasi-generasi berikutnya.. (Avz)



0 Komentar