Berita Terbaru

6/recent/ticker-posts

Kisah Nyata Seorang Mahasiswa Bernama Hatori

Naim


Fundamen Cendikia Bangsa - Di sebuah kota tenang bernama Kanazawa, hiduplah seorang pemuda yang dikenal aktif dan penuh semangat. Namanya Hatori (bukan nama sebenarnya), seorang mahasiswa semester awal yang begitu mencintai dunia organisasi. Ia kerap terlihat menjadi panitia berbagai kegiatan kampus, hadir di setiap rapat, bahkan seringkali menginspirasi teman-temannya lewat ide-ide kreatif dan semangat membara. Banyak yang memujinya, mengatakan Hatori adalah calon pemimpin masa depan. Tapi siapa sangka, gemilangnya cahaya di awal tak menjamin sinarnya tetap bertahan hingga akhir.

Waktu terus berjalan, memasuki masa Kuliah Kerja Nyata (KKN), Hatori masih berusaha terlihat kuat. Ia menjalankan tanggung jawab dengan baik, meski wajahnya mulai menampakkan lelah. Selepas KKN, tibalah saat yang paling ditunggu dan juga paling ditakuti oleh banyak mahasiswa: penyusunan skripsi. Dan saat itulah, Hatori perlahan mulai menghilang. Tidak ada lagi jejak kehadiran di kampus, tidak ada kabar di grup pertemanan, seolah ia menguap ditelan rutinitas yang tak tertanggungkan.

Satu per satu teman-teman Hatori lulus dan melangkah ke dunia baru, dunia kerja, dunia dewasa. Sedangkan Hatori? Ia masih terjebak di ruang kecil berisi tumpukan kertas, pikiran kacau, dan perasaan gagal yang menghantui setiap malam. Ia takut. Takut menjadi mahasiswa yang gagal, takut mengecewakan orang tua yang sudah mengorbankan segalanya, takut menatap cermin dan melihat dirinya sendiri yang rapuh. Ketakutan itu semakin dalam, membentuk lubang gelap yang tak lagi bisa dijangkau oleh tangan siapa pun.

Beberapa teman lama mencoba merangkulnya. Mereka mengirim pesan, mengajak bertukar kabar, sekadar menanyakan kabar atau bernostalgia tentang masa-masa ceria dulu. Tapi bagi Hatori, perhatian itu justru terasa seperti tekanan. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia merasa malu, tidak layak ditanya, tidak pantas untuk dikhawatirkan. Ia menarik diri semakin dalam, membiarkan dirinya terpenjara dalam diam.

Komunikasinya dengan orang tua pun mulai merenggang. Dulu, ia begitu dekat dengan ibunya. Tapi sekarang, setiap panggilan dari rumah justru membuat dadanya sesak. Ia takut ditanya soal skripsi, soal masa depan. Akhirnya, ia hanya membalas dengan suara singkat, atau bahkan memilih untuk tidak mengangkat. Ia memilih diam, padahal dalam diamnya, pikirannya ribut tak karuan. Air mata sering mengalir di malam hari, tapi selalu ditahan saat siang menjelang. Dunia luar tak pernah tahu bahwa Hatori sedang bertarung dengan dirinya sendiri.

Sampai suatu hari, sang Profesor yang selama ini memantau dari kejauhan datang berkunjung ke rumahnya. Dengan suara yang bijaksana dan mata yang penuh pengertian, Profesorn itu berkata, "Hatori, hidup ini bukan tentang siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling mampu bangkit ketika jatuh." Hatori duduk terdiam dan air mata mulai menuruti pipi dengan perlahan. Tangis yang tertahan selama bertahun-tahun akhirnya pecah. Untuk pertama kalinya, ia merasa didengar, diterima, dan tidak dihakimi.

Kisah Hatori adalah kisah banyak mahasiswa yang mungkin tak berani bersuara. Maka jika kamu merasa lelah, bingung, atau takut, jangan pendam sendiri. Terbukalah pada orang tua, dosen, sahabat, atau siapa pun yang kamu percaya. Mereka bukan untuk menghakimimu, tapi untuk memelukmu. Karena setiap orang pernah merasa gagal, tapi bukan berarti tak bisa kembali bangkit. Kamu tidak sendiri. Kamu hanya perlu membuka sedikit ruang di hatimu, agar orang lain bisa masuk dan menyalakan cahaya kecil di sana. 

Posting Komentar

0 Komentar