Persepakbolaan di Indonesia kembali digemparkan dengan adanya kejadian kerusuhan di Stadion Kanjuruhan Kabupaten Malang pasca dilaksanakannya pertandingan Arema melawan Persebaya (Sabtu, 1 Oktober 2022), untuk jumlah korban jiwa menurut berita online https://bola.tempo.co/ korban jiwa mencapai angka 127 orang.
Kerusuhan ini bermula saat pukul 22.00 WIB wasit meniup peluit panjang pertanda pertandingan telah berakhir. Para suporter fanatik arema “tidak menerima” atas kekalahan tim kesayangan mereka dari sang rival bebuyutannya, para petugas keamanan dengan sigap mulai menembakkan gas air mata untuk mengurai kerusuhan yang semakin membesar dan tidak terkendali.
Baca Juga: Cuci Otak Generasi Muda
Para suporter mulai turun dan merusak fasilitas stadion yang berada di dalam dan luar stadion Kanjuruhan. Beruntungnya para pemain dan oficial telah dievakuasi ke tempat yang aman menggunakan kendaran taktis sehingga semua pemain ofiicial dalam kondisi aman.
Dari kejadian di atas (Arema kalah melawan Persebaya di kandang sendiri), kita masyarakat Indonesisa harus banyak belajar, “belajar menerima dan dewasa” atas apa yang kita hadapi saat ini, namanya pertandingan tidak ada yang tidak mungkin, semuanya akan berubah kapan saja, hitung-hitungan di atas kertas tidak bisa kita jadikan acuan sebagai kekuatan yang absolut dan mengatakan “saya harus menang”.
Sebelum kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, ada juga kerusuhan besar yang pernah terjadi di 5 pertandingan yaitu;
- Persija vs Persib - 2012 (Jakarta). Kerusuhan ini pecah seusai pertandingan antara Persija Vs Persib yang mengakibatkan tiga suporter meninggal dunia dan lima lainnya luka-luka.
- Persebaya vs Persela - 2012 (Lamongan). Tragedi Lamongan yang cukup fenomenal ini disebabkan bentroknya kedua suporter tim dalam perjalanan menuju stadion. Suporter Persebaya dikabarkan mendapat serangan dari suporter Persela ketika mereka berada di atas kereta api. Tragedi ini memakan korban tewas lima orang.
- Persis Solo vs Martapura - 2014 (Solo). Dalam pertandingan delapan besar divisi utama Liga Indonesia terjadi bentrok kedua suporter yang ditengarai akibat ketidaktegasan wasit Ahmadi Jafri yang memimpin pertandingan. Satu suporter tewas ditusuk.
- Persebaya vs Arema - 2015 (Sleman). Kerusuhan yang melibatkan suporter Persebaya dan Arema pecah dalam perjalanan menuju stadion yang terjadi di dua tempat berbeda. Dalam bentrokan ini, satu korban meninggal dunia.
- Persib vs Persija - 2017 (Bandung). Hanya karena mengenakan kaus berunsur warna biru, seorang suporter diduga menjadi korban pengkeroyokan suporter Persija. Ironisnya, korban tak lain adalah pendukung Macan Kemayoran.
Baca Juga: Bjorka Membuat Indonesia Resah
Menurut Psikolog Klinis Dewasa, Yulius Steven, M.Psi., Psikolog, kekalahan adalah hal yang tidak nyaman untuk dirasakan. Normal saja ketika seseorang merasakan kesedihan, kemarahan, atau kekecewaan saat kekalahan menimpanya. Ini karena ada kaitannya dengan insting seseorang untuk bertahan hidup.
Kita juga menyadari, ketika mengakui kekalahan butuh emotional strength dan keberanian tinggi. Mereka yang tidak mau menerima kekalahan, belum sampai pada tahap itu,” oleh arena itu, penting adanya sedini mungkin untuk mengajarkan anak mengenai konsep menang dan kalah. Mulai dari permainan-permainan sederhana, ajarkan anak untuk berfokus pada PROSESNYA dibandingkan pada KEMENANGANNYA.
Konklusi:
Sikap “menerima dan dewasa” perlu kita tanamkan pada diri kita sedini mungkin, jika tidak maka akan tetap seperti ini, kapan majunya persepakbolaan Indonesia jika cara suporternya memiliki mental demikian. Namanya pertandingan pasti ada yang kalah dan menang, jika menang maka kita harus bersyukur dengan perayaan yang sewajarnya, namun jika kalah maka kita harus belajar apa penyebab kekalahan itu dan berusaha menerima “yaah inilah pertandingan”. Jika kita tidak menerima kekalahan dengan lapang dada maka yang terjadi adalah tindakan frontal, anarkis dan bahkan korban jiwa, jika ini sudah terjadi maka tentu menjadi kematian yang sia-sia.
* Author: Naim

0 Komentar