![]() |
| Anisa Putri Anggraini/Prodi PPKn |
Fundamen Cendikia Bangsa - Di setiap langkah hidup, akan selalu ada titik di mana kita harus keluar dari zona nyaman dan mulai menyatu dengan dunia yang sebenarnya, bukan yang sekadar tertulis dalam buku, bukan pula yang hanya diperdebatkan dalam kelas. Kuliah Kerja Nyata (KKN) adalah panggung nyata dari proses itu. Ia bukan sekadar kewajiban akademik, tetapi perjalanan transformatif yang membawa kita bertemu dengan kehidupan masyarakat secara langsung. Ini bukan tentang datang dan menyelesaikan tugas, melainkan tentang menghayati arti hidup berdampingan, belajar dari realitas, dan memberi jejak yang bermakna, sekecil apa pun itu.
Kami tidak sekadar akan pergi ke desa untuk mengabdi. Kami tidak hanya membawa nama besar kampus, atau sekadar datang, melaksanakan program kerja, lalu pulang begitu saja. Lebih dari itu, kami membawa misi yang lebih dalam misi belajar hidup bersama masyarakat. KKN bagi kami adalah perjalanan menuju medan pembelajaran paling nyata, tempat di mana teori bertemu praktik, dan idealisme diuji oleh realitas.
Tentu saja, tidak semua langkah dalam perjalanan ini akan terasa ringan. Ada kalanya kami harus berjalan di atas jalanan yang tak rata, berbatu, bahkan membuat kami terjatuh. Tapi justru di situlah pelajaran terbesar hadir kami belajar arti menjadi kokoh bukan dari mulusnya jalan, tapi dari bagaimana kami bangkit setiap kali tergoyahkan. Kami sadar, perjalanan ini tidak akan selalu seperti jalan tol yang lurus dan cepat, namun penuh liku yang membutuhkan kesabaran dan kerja sama.
Di sepanjang jalan, perbedaan pendapat akan datang tanpa diundang. Rasa lelah, ingin menyerah, dan malas akan menjadi teman yang mungkin kerap muncul. Namun, di titik-titik itulah kami diuji. Inilah tantangan yang memaksa kami untuk merobohkan tembok zona nyaman dan membangun jembatan baru menuju kedewasaan. Bukan tentang siapa yang paling pintar, tapi siapa yang paling tahan ditempa.
Kami akan mulai melangkah untuk belajar menjadi bagian dari kehidupan warga. Kami akan menyatu dalam kegiatan harian mereka, mempelajari cara berpikir mereka, merasakan denyut hidup mereka, dan mencoba menjadi solusi, sekecil apa pun itu. Kami belajar untuk berjalan, bukan dengan langkah kami sendiri, tapi bersama-sama dalam irama kebersamaan yang saling menguatkan.
Kami tidak pernah berharap menjadi yang sempurna. Tapi kami punya tekad yang tidak bisa dianggap remeh. Setiap jengkal langkah yang kami ambil adalah bagian dari proses pendewasaan kami. Kami belajar melepaskan ego, meruntuhkan gengsi, dan berusaha menyeimbangkan diri dengan realitas yang kami hadapi. Bukan soal siapa yang paling unggul, tapi siapa yang mampu bertahan dan tetap bergerak, meski harus jatuh dan bangkit berkali-kali.
Kelak, ketika langkah ini sampai di ujungnya, semoga kami bisa menoleh ke belakang dengan senyum penuh kebanggaan. Bukan karena semuanya berjalan sempurna, tetapi karena kami memilih untuk hadir sepenuh hati dalam proses ini. Kami tidak akan menyesal telah memutuskan untuk keluar dari kenyamanan, karena dari sinilah kami benar-benar belajar hidup bersama, untuk dan dari masyarakat.

0 Komentar