![]() |
| M. Farid Alwaritsi / Prodi Teknik Informatika |
Fundamen Cendikia Bangsa - Namanya M. Farid Alwaritsi, tapi yang lain biasa manggil dia Farid. Anak TI sejati dari prodi Teknik Informatika, tapi bukan tipe yang cuma ngoding di kamar sambil ngopi. Aries banget, ambisius dan penuh semangat. Kalau urusan organisasi, wah jangan ditanya! Mulai dari Ketua Umum Senat FST 2023/2024, aktif di HMPS-TI, UKM E-Sport, UKM Garank, sampe UKM Penalaran. Eh, belum cukup tuh—dia juga CTO-nya Tulisan Manusia, komunitas nulis yang isinya pemikir-pemikir liar tapi cerdas.
Waktu pengumuman KKN keluar, Farid langsung gaspol nyiapin mental dan strategi. Buat dia, KKN bukan cuma formalitas kampus doang, tapi ajang pembuktian. “Kunci sukses KKN tuh ada di semangat, kekompakan, dan kerja keras tim,” katanya sambil nyengir. “Kalau satu tim udah kompak, bahkan program kerja paling ribet pun bisa jadi kayak main game level easy.” Anak E-Sport banget emang analoginya.
Masuk fase KKN, Farid ngerasa kayak lagi mulai petualangan baru. Suasana desa yang adem, vibes yang damai, dan warga yang ramah bikin dia betah banget. Setiap pagi udah semangat nyapa warga, sore rapat tim sambil ngopi di teras, malamnya diskusi program. Serius, ini jauh dari bayangannya yang awalnya takut bakal berantakan. “Kebersamaan itu candu bro, apalagi kalau satu tim satu frekuensi,” katanya sambil ketawa.
Tapi bukan berarti nggak ada kekhawatiran. Farid cukup aware sama potensi konflik di antara anggota tim. Namanya juga manusia, pasti beda-beda kepala. Ada aja yang bawa ego, ada yang terlalu idealis, atau yang cuek parah. Tapi sebagai orang yang udah sering ngadepin dinamika organisasi, Farid tahu cara nge-handle: banyakin ngobrol, buka ruang diskusi, dan yang paling penting, saling paham posisi.
Setelah KKN, Farid punya target yang jelas: ningkatin skill komunikasi, teamwork, dan problem solving. Dia juga pengin relasi makin luas—nggak cuma sama temen satu tim atau dosen pembimbing, tapi juga warga desa yang ngajarin banyak hal. “Orang desa tuh punya kearifan lokal yang kadang lebih logis dari teori kampus,” katanya. Dan dari situ, dia belajar soal empati, adaptasi, dan nilai hidup.
Menurut Farid, manfaat KKN itu nggak main-main. Di lapangan, dia belajar gimana caranya peka sama sekitar, ngerti kebutuhan warga, dan nerapin ilmunya secara real. Dari situ, dia juga makin ngerti pentingnya kerja tim dan komunikasi. “Ini bukan cuma tentang bantu orang lain, tapi juga soal gimana kita berkembang sebagai manusia,” katanya sambil nulis catatan di jurnal pribadinya.
Intinya, buat Farid, KKN itu bukan cuma program wajib kampus, tapi perjalanan hidup yang ngebentuk karakter dan mental. Dari yang awalnya cemas, sekarang jadi penuh cerita dan makna. “Yang penting bukan cuma ngasih jejak di desa, tapi juga ngebawa pulang pelajaran hidup yang susah dicari di ruang kelas,” tutup Farid dengan gaya khas anak organisasi yang bijak tapi tetap humble.

0 Komentar