Berita Terbaru

6/recent/ticker-posts

KKN Sambil Mengajar, Bukti Konsistensi atau Ambisi?

 

Annis Rohmatul Izza /Bimbingan Konseling


Fundamen Cendikia Bangsa - Annis Rohmatul Izza, mahasiswi Prodi Bimbingan Konseling dengan zodiak Scorpio, menjalani kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan penuh semangat dan dedikasi. Baginya, KKN bukan sekadar program pengabdian, tetapi juga wadah untuk belajar langsung dari masyarakat sekaligus mengasah jiwa kepemimpinan serta kemampuan berkomunikasi. Di sela kesibukan KKN, Annis tidak hanya fokus pada program kerja, melainkan juga tetap menekuni dunia mengajar yang telah lama ia cintai.

Selain KKN, Annis aktif mengajar di beberapa lembaga pendidikan. Ia mengajar di Rumah Tahfidz Balita dan Anak (Rutaba), SD Islam Terpadu Al Bashiroh, dan SMA Negeri 1 Turen. Keputusan untuk tetap mengajar di tengah padatnya aktivitas ini bukan tanpa alasan, sebab mengajar telah menjadi bagian penting dari perjalanan hidup dan pengabdiannya. Dengan dunia mengajar, ia merasa lebih bermanfaat dan dekat dengan anak-anak maupun remaja.

Tentu saja, membagi waktu antara KKN dan aktivitas mengajar bukan hal yang mudah. Namun, Annis memiliki prinsip yang kuat: menempatkan diri sesuai tempatnya dan menentukan skala prioritas. Karena KKN merupakan kewajiban akademik yang harus diselesaikan, ia memutuskan untuk mengambil cuti sementara di dua tempat mengajar. Meski begitu, ia tetap konsisten mengajar di Rutaba karena jadwalnya berada di sore hari, ketika kegiatan KKN biasanya tidak terlalu padat.

Menariknya, Annis merasakan bahwa mengajar sambil menjalankan KKN tidak mengganggu program kerja yang sudah direncanakan. Hal itu karena proker KKN telah disusun secara sistematis sejak awal, sehingga tidak ada yang bersifat mendadak atau menumpuk. Dengan struktur yang jelas, ia bisa tetap fokus mengajar sekaligus menjalankan tugas pengabdian di desa tempat KKN berlangsung.

Namun, Annis tidak menutup mata bahwa ritme pengabdian yang dijalaninya cukup padat. Tips utama yang ia pegang adalah kemampuan dalam menentukan skala prioritas. Dengan tahu mana yang lebih mendesak, ia bisa mengatur energi dan waktu agar setiap tanggung jawab dapat dijalankan secara seimbang. Prinsip ini menjadi pegangan yang sangat membantu dalam menghadapi tantangan sehari-hari.

Di balik padatnya jadwal, Annis tetap merasa bangga bisa menjalani keduanya sekaligus. Ia mengapresiasi dirinya karena mampu menyeimbangkan peran sebagai mahasiswa KKN, guru, dan bagian dari masyarakat. Meski secara kasat mata terlihat seolah ia meninggalkan sebagian tugas mengajar, kenyataannya ia tetap bisa bertemu dengan siswa-siswi di MI Jabal Tsur, anak-anak bimbingan belajar di posko, hingga warga desa yang menjadi sasaran pengabdian.

Salah satu tantangan besar adalah jarak perjalanan dari Turen ke Tajinan yang memakan waktu sekitar 50 menit sekali jalan. Jarak itu mengurangi porsi waktu istirahatnya, tetapi Annis melihatnya dari sisi yang positif. Perjalanan panjang tersebut justru ia anggap sebagai "charger ruh" yang memberikan energi baru. Dengan perjalanan itu, ia bisa merenung, berdoa, dan menata kembali semangatnya agar tetap istiqomah.

Pada akhirnya, Annis merasa semua lelahnya terbayar dengan keberkahan. Kesempatan untuk mengajar sekaligus mengabdi di masyarakat bukanlah sesuatu yang mudah dimiliki semua orang. Ia berharap setiap langkah yang ia ambil menjadi amal kebaikan, sekaligus menjadi pengalaman berharga yang memperkaya dirinya sebagai calon konselor sekaligus pendidik. Dengan semangat dan doa, Annis yakin bahwa perjalanan ini akan selalu membawa keberkahan dari Allah.


Posting Komentar

0 Komentar