![]() |
| Annis Rohmatul Izza /Bimbingan Konseling |
Fundamen Cendikia Bangsa - Annis Rohmatul Izza,
mahasiswi Prodi Bimbingan Konseling dengan zodiak Scorpio, menjalani kegiatan
Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan penuh semangat dan dedikasi. Baginya, KKN bukan
sekadar program pengabdian, tetapi juga wadah untuk belajar langsung dari masyarakat
sekaligus mengasah jiwa kepemimpinan serta kemampuan berkomunikasi. Di sela
kesibukan KKN, Annis tidak hanya fokus pada program kerja, melainkan juga tetap
menekuni dunia mengajar yang telah lama ia cintai.
Selain KKN, Annis aktif mengajar di beberapa lembaga
pendidikan. Ia mengajar di Rumah Tahfidz Balita dan Anak (Rutaba), SD Islam
Terpadu Al Bashiroh, dan SMA Negeri 1 Turen. Keputusan untuk tetap mengajar di
tengah padatnya aktivitas ini bukan tanpa alasan, sebab mengajar telah menjadi
bagian penting dari perjalanan hidup dan pengabdiannya. Dengan dunia mengajar,
ia merasa lebih bermanfaat dan dekat dengan anak-anak maupun remaja.
Tentu saja, membagi waktu antara KKN dan aktivitas mengajar
bukan hal yang mudah. Namun, Annis memiliki prinsip yang kuat: menempatkan diri
sesuai tempatnya dan menentukan skala prioritas. Karena KKN merupakan kewajiban
akademik yang harus diselesaikan, ia memutuskan untuk mengambil cuti sementara
di dua tempat mengajar. Meski begitu, ia tetap konsisten mengajar di Rutaba
karena jadwalnya berada di sore hari, ketika kegiatan KKN biasanya tidak
terlalu padat.
Menariknya, Annis merasakan bahwa mengajar sambil
menjalankan KKN tidak mengganggu program kerja yang sudah direncanakan. Hal itu
karena proker KKN telah disusun secara sistematis sejak awal, sehingga tidak
ada yang bersifat mendadak atau menumpuk. Dengan struktur yang jelas, ia bisa
tetap fokus mengajar sekaligus menjalankan tugas pengabdian di desa tempat KKN
berlangsung.
Namun, Annis tidak menutup mata bahwa ritme pengabdian yang
dijalaninya cukup padat. Tips utama yang ia pegang adalah kemampuan dalam
menentukan skala prioritas. Dengan tahu mana yang lebih mendesak, ia bisa
mengatur energi dan waktu agar setiap tanggung jawab dapat dijalankan secara
seimbang. Prinsip ini menjadi pegangan yang sangat membantu dalam menghadapi
tantangan sehari-hari.
Di balik padatnya jadwal, Annis tetap merasa bangga bisa
menjalani keduanya sekaligus. Ia mengapresiasi dirinya karena mampu menyeimbangkan
peran sebagai mahasiswa KKN, guru, dan bagian dari masyarakat. Meski secara
kasat mata terlihat seolah ia meninggalkan sebagian tugas mengajar,
kenyataannya ia tetap bisa bertemu dengan siswa-siswi di MI Jabal Tsur,
anak-anak bimbingan belajar di posko, hingga warga desa yang menjadi sasaran
pengabdian.
Salah satu tantangan besar adalah jarak perjalanan dari
Turen ke Tajinan yang memakan waktu sekitar 50 menit sekali jalan. Jarak itu
mengurangi porsi waktu istirahatnya, tetapi Annis melihatnya dari sisi yang
positif. Perjalanan panjang tersebut justru ia anggap sebagai "charger
ruh" yang memberikan energi baru. Dengan perjalanan itu, ia bisa merenung,
berdoa, dan menata kembali semangatnya agar tetap istiqomah.
Pada akhirnya, Annis merasa semua lelahnya terbayar dengan
keberkahan. Kesempatan untuk mengajar sekaligus mengabdi di masyarakat bukanlah
sesuatu yang mudah dimiliki semua orang. Ia berharap setiap langkah yang ia
ambil menjadi amal kebaikan, sekaligus menjadi pengalaman berharga yang memperkaya
dirinya sebagai calon konselor sekaligus pendidik. Dengan semangat dan doa,
Annis yakin bahwa perjalanan ini akan selalu membawa keberkahan dari Allah.

0 Komentar