Berita Terbaru

6/recent/ticker-posts

Lilin dari Minyak Bekas, Solusi Kreatif Bernilai Jual

 

Dista Olivia Efranji /PGSD


Fundamen Cendikia Bangsa - Dista Olivia Efranji, seorang mahasiswi dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), adalah sosok dengan zodiak Cancer yang dikenal penuh kepedulian dan empati. Saat menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN), ia dipercaya menjadi penanggung jawab program kerja (PJ proker) bernama ReJelin atau Recycle Jelantah jadi Lilin. Program ini menjadi salah satu kegiatan unggulan yang tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat, tetapi juga mengajarkan tentang pentingnya pengelolaan limbah rumah tangga menjadi produk yang bernilai guna.

Program ReJelin ini berfokus pada pemanfaatan minyak jelantah yang biasanya dibuang begitu saja menjadi lilin aromaterapi yang ramah lingkungan. Ide kreatif ini muncul karena banyak masyarakat yang belum tahu bahwa minyak bekas ternyata bisa diolah kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat. Melalui kegiatan ini, warga tidak hanya mendapatkan wawasan baru tentang pengelolaan limbah, tetapi juga diberi kesempatan untuk mencoba langsung membuat lilin dengan bahan dasar yang sederhana dan mudah ditemui.

Namun, perjalanan menjalankan proker ini tentu tidak lepas dari tantangan. Salah satunya adalah proses penjernihan minyak jelantah. Minyak bekas biasanya keruh, berbau tidak sedap, dan bercampur dengan sisa makanan, sehingga memerlukan penyaringan ekstra. Jika tahap ini tidak dilakukan dengan benar, lilin yang dihasilkan bisa berbau tengik atau mengeluarkan asap saat digunakan. Tantangan berikutnya adalah soal kualitas lilin. Kadang lilin tidak padat sempurna, mudah retak, atau warnanya keruh jika minyak tidak benar-benar bersih. Selain itu, ketersediaan bahan tambahan seperti stearic acid dan essential oil juga menjadi hambatan, karena jika sulit didapat atau harganya mahal, kualitas lilin aromaterapi yang dihasilkan bisa berkurang.

Meski penuh tantangan, manfaat dari program ini sangat besar bagi masyarakat. Lingkungan menjadi lebih bersih karena minyak bekas tidak lagi dibuang sembarangan. Warga juga mendapat keterampilan baru dalam membuat produk kreatif yang bisa dipakai sendiri atau bahkan dijual sebagai tambahan penghasilan. Lebih dari itu, kegiatan ini menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap pengelolaan limbah rumah tangga dan memberi pengalaman seru karena bisa belajar hal sederhana yang ternyata memiliki nilai guna tinggi.

Dalam menjalankan proker, Dista dan tim tentu menghadapi perbedaan pandangan dan pendapat antar anggota maupun dengan warga. Namun, hal tersebut disikapi dengan komunikasi yang baik. Mendengarkan pendapat tanpa memotong, musyawarah, kompromi, hingga melakukan voting jika diperlukan menjadi cara untuk menjaga suasana tetap kondusif. Dista juga menekankan pentingnya tidak membawa perasaan pribadi dalam diskusi, agar kritik bisa diterima sebagai masukan, bukan serangan. Dengan komunikasi terbuka dan saling menghargai, perbedaan justru menjadi sumber ide-ide baru yang memperkaya jalannya program.

Setelah KKN berakhir, Dista berharap semangat kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian lingkungan yang telah dibangun bersama masyarakat tetap terjaga. Program pemanfaatan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi diharapkan tidak berhenti sampai di situ, tetapi bisa terus dikembangkan dan dimanfaatkan secara berkelanjutan. Rasa terima kasih pun ia sampaikan kepada warga atas penerimaan hangat, kerja sama, dan kebersamaan yang sudah terjalin. Silaturahmi diharapkan tetap terjaga meskipun kegiatan KKN sudah usai.

Dari pengalaman KKN ini, Dista merasa memperoleh banyak ilmu berharga. Ia belajar bagaimana cara berbaur dengan masyarakat, bekerja sama dalam tim, dan mengatur program agar berjalan dengan baik. Melalui proker ReJelin, ia juga menambah wawasan tentang kewirausahaan, kreativitas, serta bagaimana mengubah sesuatu yang dianggap limbah menjadi produk bernilai. Selain itu, ia belajar tentang tanggung jawab, kepemimpinan, dan cara mengajak masyarakat untuk terlibat aktif dalam program.

Hal yang paling berkesan bagi Dista adalah tumbuhnya rasa empati dan kepedulian yang lebih dalam. Dengan melihat langsung kebutuhan masyarakat dan ikut merasakan kehidupan sehari-hari mereka, ia semakin menyadari arti penting berbagi, peduli, dan bekerja sama. Semua pengalaman dan ilmu yang ia dapatkan selama KKN menjadi bekal berharga untuk perjalanan hidupnya, baik sebagai calon pendidik maupun sebagai individu yang peduli pada lingkungan dan masyarakat.

Posting Komentar

0 Komentar