Berita Terbaru

6/recent/ticker-posts

Rahasia Gelap di Posko KKN

 

Anggra, CS, Shinta


Fundamen Cendikia Bangsa - Satu kata yang paling ditunggu sebagian besar mahasiswa adalah KKN. Semua orang biasanya membayangkan KKN itu soal turun ke lapangan membantu masyarakat, menjalankan program kerja, lalu pulang dengan wajah penuh wibawa seperti pahlawan desa. Padahal, ada satu dunia lain yang jarang disorot, tapi justru paling keras dan penuh warna: dunia posko. Dunia di mana kopi hitam lebih sakti dari pada buku catatan, dan suara ketikan laptop bisa lebih nyaring daripada suara jangkrik malam hari.

Di posko KKN Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) yang ditempatkan di Desa Tajinan, ada tiga manusia yang selalu jadi bumbu penyedap kehidupan: Anggra, Shinta, dan CS. Tiga nama ini mungkin terdengar biasa, tapi kalau sudah berada dalam satu atap posko, percayalah, drama mereka bisa mengalahkan sinetron jam prime time. Mereka adalah paket lengkap: sabar, cuek, sampai yang emosinya bisa tiba-tiba meledak seperti mercon.

Anggra, misalnya. Dia punya satu kalimat sakti yang hampir setiap hari keluar: “Mboh, karepmu wes mas.” Kalimat ini entah bagaimana bisa menjadi jawaban universal untuk hampir semua masalah, mulai dari font desain yang salah sampai rebutan giliran mandi. Sementara Shinta selalu punya versi lebih kalem dari Anggra, sering berkata, “Alah mboh mbak, iki piye mas,” yang membuat suasana jadi adem, meski sebenarnya masalah belum selesai.

Namun, yang paling mencuri perhatian tentu saja CS. Kalau Anggra dan Shinta ibarat air, maka CS adalah api dengan energi 220 volt. Saat deadline desain atau editan video semakin dekat, ia bisa berubah menjadi “Hulk akademik.” Nada suara meninggi, jari-jari mengetik sekeras mungkin, dan aura posko langsung berubah tegang. Siapa pun yang lewat di belakang laptopnya langsung merasa bersalah, meski tidak tahu salahnya apa.

Kehidupan posko pun semakin berwarna ketika perintah Anggra mulai terdengar seperti aturan wajib, sementara di sisi lain CS berteriak karena font dan warna desain tidak sesuai keinginannya. Laptop yang kepanasan ikut menambah drama, seakan-akan ingin protes juga. Dan di tengah semua itu, Shinta tetap dengan kalimat andalannya: “Aku manut wes mbak, mas,” membuat semua orang sadar bahwa kadang solusi terbaik adalah pasrah sambil menyeruput kopi hitam.

Meski penuh keluhan, drama mandi, dan suara ketikan yang membuat kepala pening, posko justru terasa lebih hidup karena mereka bertiga. Shinta mengajarkan bahwa di balik lelah selalu ada ruang untuk tertawa, sementara CS membuktikan bahwa emosi tinggi pun bisa lahir dari niat tulus untuk menyelesaikan tugas tepat waktu. Anggra, dengan kalimat pamungkasnya, justru jadi perekat yang menegaskan bahwa apapun masalahnya, toh semua akan selesai juga.

Kopi hitam di sudut posko akhirnya bukan hanya sekadar minuman. Ia menjadi simbol keseimbangan: antara keluhan dan semangat, antara tawa dan emosi, antara lupa mandi dan diingatkan mandi. Setiap tegukan adalah saksi bisu atas segala cerita yang terjadi, dari obrolan santai sampai perdebatan sengit. Di balik aroma pahitnya, ada rasa manis kebersamaan yang hanya bisa dirasakan sekali seumur hidup mahasiswa.

Dan pada akhirnya, yang tersisa bukan hanya laporan KKN, dokumentasi, atau program kerja yang berhasil dijalankan. Yang paling membekas adalah cerita kebersamaan: suara tawa di tengah deadline, keluhan yang berubah jadi candaan, perintah yang diam-diam memotivasi, dan tentu saja aroma kopi hitam yang selalu menemani malam-malam panjang. Semua itu menjadi catatan indah yang kelak akan dirindukan, meski saat ini sering dikeluhkan.

Karena sejatinya, KKN bukan hanya tentang masyarakat yang diberdayakan. Lebih dari itu, KKN adalah tentang mahasiswa yang ditempa: belajar sabar, belajar tertawa, belajar menerima perbedaan, dan belajar menyadari bahwa bahkan di tengah kesibukan, selalu ada ruang untuk berteriak, “Alah, emboh… iki piye?” Dan di situlah letak kenangan paling berharga: bukan pada hasil akhir, melainkan pada perjalanan yang penuh warna.

Posting Komentar

0 Komentar