![]() |
| Anggra, CS, Shinta |
Fundamen Cendikia Bangsa - Satu kata yang
paling ditunggu sebagian besar mahasiswa adalah KKN. Semua orang biasanya
membayangkan KKN itu soal turun ke lapangan membantu masyarakat, menjalankan
program kerja, lalu pulang dengan wajah penuh wibawa seperti pahlawan desa.
Padahal, ada satu dunia lain yang jarang disorot, tapi justru paling keras dan
penuh warna: dunia posko. Dunia di mana kopi hitam lebih sakti dari pada buku
catatan, dan suara ketikan laptop bisa lebih nyaring daripada suara jangkrik
malam hari.
Di posko KKN Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama)
yang ditempatkan di Desa Tajinan, ada tiga manusia yang selalu jadi bumbu
penyedap kehidupan: Anggra, Shinta, dan CS. Tiga nama ini mungkin terdengar
biasa, tapi kalau sudah berada dalam satu atap posko, percayalah, drama mereka
bisa mengalahkan sinetron jam prime time. Mereka adalah paket lengkap: sabar,
cuek, sampai yang emosinya bisa tiba-tiba meledak seperti mercon.
Anggra, misalnya. Dia punya satu kalimat sakti yang hampir
setiap hari keluar: “Mboh, karepmu wes mas.” Kalimat ini entah bagaimana bisa
menjadi jawaban universal untuk hampir semua masalah, mulai dari font desain
yang salah sampai rebutan giliran mandi. Sementara Shinta selalu punya versi
lebih kalem dari Anggra, sering berkata, “Alah mboh mbak, iki piye mas,” yang
membuat suasana jadi adem, meski sebenarnya masalah belum selesai.
Namun, yang paling mencuri perhatian tentu saja CS. Kalau
Anggra dan Shinta ibarat air, maka CS adalah api dengan energi 220 volt. Saat
deadline desain atau editan video semakin dekat, ia bisa berubah menjadi “Hulk
akademik.” Nada suara meninggi, jari-jari mengetik sekeras mungkin, dan aura
posko langsung berubah tegang. Siapa pun yang lewat di belakang laptopnya
langsung merasa bersalah, meski tidak tahu salahnya apa.
Kehidupan posko pun semakin berwarna ketika perintah Anggra
mulai terdengar seperti aturan wajib, sementara di sisi lain CS berteriak
karena font dan warna desain tidak sesuai keinginannya. Laptop yang kepanasan
ikut menambah drama, seakan-akan ingin protes juga. Dan di tengah semua itu,
Shinta tetap dengan kalimat andalannya: “Aku manut wes mbak, mas,” membuat
semua orang sadar bahwa kadang solusi terbaik adalah pasrah sambil menyeruput
kopi hitam.
Meski penuh keluhan, drama mandi, dan suara ketikan yang membuat
kepala pening, posko justru terasa lebih hidup karena mereka bertiga. Shinta
mengajarkan bahwa di balik lelah selalu ada ruang untuk tertawa, sementara CS
membuktikan bahwa emosi tinggi pun bisa lahir dari niat tulus untuk
menyelesaikan tugas tepat waktu. Anggra, dengan kalimat pamungkasnya, justru
jadi perekat yang menegaskan bahwa apapun masalahnya, toh semua akan selesai
juga.
Kopi hitam di sudut posko akhirnya bukan hanya sekadar
minuman. Ia menjadi simbol keseimbangan: antara keluhan dan semangat, antara
tawa dan emosi, antara lupa mandi dan diingatkan mandi. Setiap tegukan adalah
saksi bisu atas segala cerita yang terjadi, dari obrolan santai sampai
perdebatan sengit. Di balik aroma pahitnya, ada rasa manis kebersamaan yang
hanya bisa dirasakan sekali seumur hidup mahasiswa.
Dan pada akhirnya, yang tersisa bukan hanya laporan KKN,
dokumentasi, atau program kerja yang berhasil dijalankan. Yang paling membekas
adalah cerita kebersamaan: suara tawa di tengah deadline, keluhan yang berubah
jadi candaan, perintah yang diam-diam memotivasi, dan tentu saja aroma kopi
hitam yang selalu menemani malam-malam panjang. Semua itu menjadi catatan indah
yang kelak akan dirindukan, meski saat ini sering dikeluhkan.
Karena sejatinya, KKN bukan hanya tentang masyarakat yang
diberdayakan. Lebih dari itu, KKN adalah tentang mahasiswa yang ditempa:
belajar sabar, belajar tertawa, belajar menerima perbedaan, dan belajar
menyadari bahwa bahkan di tengah kesibukan, selalu ada ruang untuk berteriak,
“Alah, emboh… iki piye?” Dan di situlah letak kenangan paling berharga: bukan
pada hasil akhir, melainkan pada perjalanan yang penuh warna.

0 Komentar