Berita Terbaru

6/recent/ticker-posts

Jejak Kecil Di Dusun Karangnongko

 


Fundamen Cendikia Bangsa - Udara sejuk Dusun Karangnongko, Desa Tajinan, menjadi saksi perjalanan para mahasiswa yang tengah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Kehidupan di sana berjalan dengan ritme yang tak selalu mudah. Bagi sebagian mahasiswa, KKN adalah kesempatan berharga untuk mengenal desa baru, berbaur dengan masyarakat, serta belajar dari keseharian mereka. Namun, bagi seorang mahasiswa bernama Aldi Choirus Subhan, pengalaman ini justru menjadi sebuah ujian berat. Sebagai PDD, ia dituntut lebih daripada sekadar menjalankan program kerja. Ia harus mampu menjadi jembatan komunikasi, wajah depan kelompok, sekaligus tenaga di balik layar yang memastikan semua berjalan dengan baik.

Menjadi PDD bukanlah tugas kecil, terlebih bagi Aldi yang harus memikul tanggung jawab ganda. Di satu sisi, ia adalah bagian dari warga setempat yang harus bisa membaur dengan baik. Di sisi lain, ia hadir sebagai representasi mahasiswa yang membawa misi pengabdian. Peran ganda ini membuatnya sering kali harus bekerja ekstra. Malam-malam panjang ia habiskan di depan laptop, jemarinya menari tanpa henti demi menyusun konten dan laporan. Ada kalanya rasa lelah begitu menghantam, pundaknya terasa berat, matanya nyaris terpejam, dan semangatnya perlahan meredup.

Namun, di balik segala kepenatan itu, hadir sosok kecil yang tanpa sadar menjadi cahaya penuntun. Ia adalah Rama, bocah kelas 1 SD yang setiap hari datang dengan senyum polosnya. Setiap kali pintu posko terbuka, suara mungil itu akan terdengar lantang, “edimmah Mas Aldi?” dengan logat Madura yang kental. Sapaan sederhana itu selalu berhasil mencairkan suasana posko, bahkan membuat teman-teman Aldi tertawa riang. Tak jarang, Rama digelari sebagai “fans cilik Mas Aldi.” Meski terdengar sebagai candaan, bagi Aldi panggilan itu adalah energi baru yang sanggup menghapus seluruh penatnya.

Senyum Rama selalu merekah, memperlihatkan deretan gigi kecil yang membuat wajahnya semakin menggemaskan. Bagi Aldi, senyum itu adalah obat paling mujarab. Setiap kali Rama berlari kecil mendekat, rasa lelah karena tumpukan program kerja dan laporan seakan sirna begitu saja. “Begitu dengar Rama memanggil, saya seperti diingatkan lagi: bahwa pengabdian ini bukan soal seberapa besar program yang saya jalankan, tapi soal seberapa dalam saya bisa menyentuh kehidupan orang lain,” ucap Aldi dengan lirih.

Rama pun tak pernah bosan mencari Aldi. Jika kebetulan Aldi sedang sibuk atau tak terlihat di posko, bocah kecil itu akan bertanya kepada teman-teman KKN dengan nada polos yang khas, “edimmah Mas Aldi?” Kalimat itu begitu melekat, seolah menjadi bagian dari keseharian mereka di posko. Bagi Aldi dan teman-temannya, kehadiran Rama bukan sekadar hiburan, melainkan pengingat kecil bahwa pengabdian tidak hanya sebatas program yang selesai, tetapi juga tentang hubungan yang terjalin dengan masyarakat, sekecil apa pun itu.

Dusun Karangnongko sendiri mayoritas menggunakan bahasa Madura dalam kesehariannya. Rama pun selalu berbicara dengan bahasa itu tanpa rasa canggung, meskipun Aldi bukan penutur asli. Justru dari perbedaan itu lahir kedekatan yang hangat. Setiap sapaan, tawa polos, dan senyum tulus Rama seakan menjadi bahasa universal yang menyatukan mereka. Aldi belajar bahwa ketulusan tidak membutuhkan kata-kata rumit; ia hadir dalam bentuk sederhana seperti senyum seorang anak kecil.

Kini, hari-hari KKN semakin mendekati akhir. Bagi Aldi, perpisahan dengan Rama adalah sesuatu yang berat. Ia sadar, ketika posko ditutup dan mahasiswa kembali ke rutinitas kampus, suara mungil itu tak lagi terdengar memanggil namanya. Tidak akan ada lagi Rama yang berlari kecil ke posko, tidak ada lagi senyum mungil dengan gigi kecil yang menggemaskan, dan tidak ada lagi tawa polos yang mampu menghapus rasa lelah. “Rama mungkin hanya seorang anak kecil, tapi bagi saya, dia adalah bagian dari cerita pengabdian yang tak akan pernah saya lupakan. Masa ini, kebersamaan ini, akan selalu saya rindukan,” ungkap Aldi penuh haru.

Kisah Aldi dan Rama menjadi potret sederhana tentang makna pengabdian yang sejati. Bahwa KKN bukan sekadar deretan laporan rapi atau program kerja yang sukses dijalankan, melainkan juga tentang manusia dan ikatan hati yang terbentuk. Dari senyum polos seorang bocah, seorang mahasiswa belajar apa itu ketulusan, kepedulian, dan keikhlasan. Kisah kecil ini mengajarkan, bahwa pengabdian sejati justru ditemukan dalam momen-momen sederhana yang akan terus hidup dalam kenangan.


Posting Komentar

0 Komentar