Fundamen Cendikia Bangsa - Udara sejuk Dusun Karangnongko, Desa Tajinan, menjadi
saksi perjalanan para mahasiswa yang tengah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata
(KKN). Kehidupan di sana berjalan dengan ritme yang tak selalu mudah. Bagi
sebagian mahasiswa, KKN adalah kesempatan berharga untuk mengenal desa baru,
berbaur dengan masyarakat, serta belajar dari keseharian mereka. Namun, bagi
seorang mahasiswa bernama Aldi Choirus Subhan, pengalaman ini justru menjadi sebuah
ujian berat. Sebagai PDD, ia dituntut lebih daripada sekadar menjalankan
program kerja. Ia harus mampu menjadi jembatan komunikasi, wajah depan
kelompok, sekaligus tenaga di balik layar yang memastikan semua berjalan dengan
baik.
Menjadi PDD bukanlah tugas kecil, terlebih bagi Aldi
yang harus memikul tanggung jawab ganda. Di satu sisi, ia adalah bagian dari
warga setempat yang harus bisa membaur dengan baik. Di sisi lain, ia hadir
sebagai representasi mahasiswa yang membawa misi pengabdian. Peran ganda ini
membuatnya sering kali harus bekerja ekstra. Malam-malam panjang ia habiskan di
depan laptop, jemarinya menari tanpa henti demi menyusun konten dan laporan.
Ada kalanya rasa lelah begitu menghantam, pundaknya terasa berat, matanya
nyaris terpejam, dan semangatnya perlahan meredup.
Namun, di balik segala kepenatan itu, hadir sosok
kecil yang tanpa sadar menjadi cahaya penuntun. Ia adalah Rama,
bocah kelas 1 SD yang setiap hari datang dengan senyum polosnya. Setiap kali
pintu posko terbuka, suara mungil itu akan terdengar lantang, “edimmah
Mas Aldi?” dengan logat Madura yang kental. Sapaan sederhana itu
selalu berhasil mencairkan suasana posko, bahkan membuat teman-teman Aldi
tertawa riang. Tak jarang, Rama digelari sebagai “fans cilik Mas Aldi.” Meski
terdengar sebagai candaan, bagi Aldi panggilan itu adalah energi baru yang
sanggup menghapus seluruh penatnya.
Senyum Rama selalu merekah, memperlihatkan deretan
gigi kecil yang membuat wajahnya semakin menggemaskan. Bagi Aldi, senyum itu
adalah obat paling mujarab. Setiap kali Rama berlari kecil mendekat, rasa lelah
karena tumpukan program kerja dan laporan seakan sirna begitu saja. “Begitu
dengar Rama memanggil, saya seperti diingatkan lagi: bahwa pengabdian ini bukan
soal seberapa besar program yang saya jalankan, tapi soal seberapa dalam saya bisa
menyentuh kehidupan orang lain,” ucap Aldi dengan lirih.
Rama pun tak pernah bosan mencari Aldi. Jika
kebetulan Aldi sedang sibuk atau tak terlihat di posko, bocah kecil itu akan
bertanya kepada teman-teman KKN dengan nada polos yang khas, “edimmah
Mas Aldi?” Kalimat itu begitu melekat, seolah menjadi bagian dari
keseharian mereka di posko. Bagi Aldi dan teman-temannya, kehadiran Rama bukan
sekadar hiburan, melainkan pengingat kecil bahwa pengabdian tidak hanya sebatas
program yang selesai, tetapi juga tentang hubungan yang terjalin dengan
masyarakat, sekecil apa pun itu.
Dusun Karangnongko sendiri mayoritas menggunakan
bahasa Madura dalam kesehariannya. Rama pun selalu berbicara dengan bahasa itu
tanpa rasa canggung, meskipun Aldi bukan penutur asli. Justru dari perbedaan
itu lahir kedekatan yang hangat. Setiap sapaan, tawa polos, dan senyum tulus
Rama seakan menjadi bahasa universal yang menyatukan mereka. Aldi belajar bahwa
ketulusan tidak membutuhkan kata-kata rumit; ia hadir dalam bentuk sederhana seperti
senyum seorang anak kecil.
Kini, hari-hari KKN semakin mendekati akhir. Bagi
Aldi, perpisahan dengan Rama adalah sesuatu yang berat. Ia sadar, ketika posko
ditutup dan mahasiswa kembali ke rutinitas kampus, suara mungil itu tak lagi
terdengar memanggil namanya. Tidak akan ada lagi Rama yang berlari kecil ke
posko, tidak ada lagi senyum mungil dengan gigi kecil yang menggemaskan, dan
tidak ada lagi tawa polos yang mampu menghapus rasa lelah. “Rama mungkin hanya
seorang anak kecil, tapi bagi saya, dia adalah bagian dari cerita pengabdian
yang tak akan pernah saya lupakan. Masa ini, kebersamaan ini, akan selalu saya
rindukan,” ungkap Aldi penuh haru.
Kisah Aldi dan Rama menjadi potret sederhana tentang makna pengabdian yang sejati. Bahwa KKN bukan sekadar deretan laporan rapi atau program kerja yang sukses dijalankan, melainkan juga tentang manusia dan ikatan hati yang terbentuk. Dari senyum polos seorang bocah, seorang mahasiswa belajar apa itu ketulusan, kepedulian, dan keikhlasan. Kisah kecil ini mengajarkan, bahwa pengabdian sejati justru ditemukan dalam momen-momen sederhana yang akan terus hidup dalam kenangan.

0 Komentar