Berita Terbaru

6/recent/ticker-posts

Kenangan Manis KKN Aqilah di Tajinan

Aqilah Najwa May Maharani / PGSD


Fundamen Cendikia Bangsa - Aqilah Najwa May Maharani, seorang mahasiswa asal Malang yang berzodiak Taurus, baru saja menyelesaikan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Karangnongko, Kecamatan Tajinan. KKN menjadi salah satu pengalaman berharga dalam perjalanan akademik dan kehidupan sosialnya. Sebagai pribadi yang dikenal tekun dan bertanggung jawab, Aqilah mendapatkan amanah yang cukup besar dalam kegiatan ini. Tidak hanya menjalani rutinitas KKN pada umumnya, ia juga terlibat aktif dalam berbagai program yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Hal ini menjadi tantangan sekaligus pembelajaran penting baginya selama kurang lebih satu bulan penuh bersama rekan-rekan satu tim di posko KKN.

Selama KKN, Aqilah dipercaya memegang tanggung jawab di bagian konsumsi. Setiap harinya, ia menentukan menu makan untuk pagi dan malam hari, kemudian membantu teman-teman yang mendapat jadwal piket dari Senin hingga Minggu. Bahkan, ia kerap berangkat subuh ke pasar Tajinan yang terletak di bawah desa Karangnongko untuk membeli bahan makanan. Tugas ini bukan pekerjaan ringan, sebab harus memikirkan kebutuhan banyak orang sekaligus memastikan makanan tetap terjaga kualitas dan kesehatannya. Namun, berkat kegigihan dan sifat tanggung jawab yang dimilikinya, semua dapat terkoordinasi dengan baik.

Selain mengurus konsumsi, Aqilah juga diberi peran penting dalam program kerja (proker) calistung, yaitu kegiatan belajar membaca, menulis, dan berhitung bagi anak-anak PAUD, TK, hingga SD. Program ini dilaksanakan dua kali dalam seminggu, tepatnya setiap hari Senin dan Selasa. Di sini, Aqilah menjadi penanggung jawab utama, memastikan anak-anak mendapatkan pembelajaran yang sesuai dengan usianya. Peran ini membuatnya semakin dekat dengan masyarakat, khususnya anak-anak di desa, sekaligus memberikan kesempatan untuk berkontribusi langsung terhadap pendidikan dasar mereka.

Proker calistung yang dipimpinnya berjalan dengan lancar. Aqilah tidak bekerja sendirian, sebab teman-teman KKN lainnya juga ikut turun tangan membantu agar kegiatan berjalan sesuai rencana. Dukungan penuh dari rekan-rekan satu tim menjadi kekuatan tersendiri, sehingga suasana belajar menjadi menyenangkan baik bagi anak-anak maupun mahasiswa. Alhamdulillah, hingga akhir pelaksanaan, program ini tidak mengalami hambatan berarti. Satu-satunya tantangan mungkin dirasakan oleh mahasiswa non-jurusan pendidikan yang harus beradaptasi dengan tingkah laku anak-anak yang membutuhkan kesabaran ekstra. Meski begitu, semua tetap teratasi dengan baik.

Keberhasilan proker calistung tentu tidak lepas dari strategi yang diterapkan. Aqilah berbagi tips suksesnya, antara lain dimulai dari dasar dengan mengajarkan huruf dan angka secara bertahap serta berulang. Ia juga menekankan pentingnya belajar sambil bermain dengan aktivitas menyenangkan agar anak-anak tidak mudah bosan. Selain itu, pemberian apresiasi kecil berupa pujian juga dianggap penting untuk memotivasi anak agar terus semangat belajar. Dengan cara sederhana namun konsisten ini, anak-anak lebih antusias dalam mengikuti setiap pertemuan.

Selama menjalankan proker calistung maupun konsumsi, Aqilah bersyukur tidak pernah menghadapi perbedaan pendapat yang berarti dengan teman-temannya. Semua lebih banyak berjalan dalam suasana diskusi yang sehat, saling memberi saran dan solusi. Kerjasama tim menjadi modal besar dalam menyukseskan kegiatan KKN. Setiap anggota memiliki kontribusi masing-masing, dan semuanya menghargai peran satu sama lain. Rasa kebersamaan inilah yang membuat KKN semakin berkesan dan penuh makna.

Namun, KKN bukan tanpa cerita suka dan duka. Menjelang akhir kegiatan, tepatnya lima hari sebelum penutupan, banyak anggota tim posko yang jatuh sakit. Kondisi ini membuat Aqilah harus menambah jumlah menu masakan, misalnya menyediakan sayur bening dan minuman jahe hangat agar teman-temannya merasa lebih sehat. Meski cukup melelahkan, semua tetap terlewati dengan baik berkat saling membantu. Beberapa teman juga dibawa berobat ke klinik hingga akhirnya pulih. Peristiwa ini menjadi salah satu kenangan yang tak terlupakan, memperlihatkan betapa eratnya ikatan persaudaraan di antara mereka.

Kini, ketika KKN resmi ditutup, Aqilah merasa waktu berlalu begitu cepat. Ada rasa sedih harus berpisah dengan teman-teman yang selama ini sudah seperti keluarga sendiri. Banyak cerita yang tersimpan, mulai dari kerja sama, tawa, lelah, hingga kebersamaan yang sulit diulang. Aqilah berterima kasih atas semangat, dukungan, dan kebersamaan yang terjalin selama KKN. Ia berharap silaturahmi ini akan terus terjaga meski kegiatan telah usai. Baginya, pengalaman indah di Desa Karangnongko bukan sekadar program akademik, tetapi bekal berharga untuk menghadapi masa depan.

 


Posting Komentar

0 Komentar