![]() |
| Aqilah Najwa May Maharani / PGSD |
Fundamen Cendikia Bangsa - Aqilah Najwa May Maharani, seorang
mahasiswa asal Malang yang berzodiak Taurus, baru saja menyelesaikan kegiatan
Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Karangnongko, Kecamatan Tajinan. KKN menjadi
salah satu pengalaman berharga dalam perjalanan akademik dan kehidupan
sosialnya. Sebagai pribadi yang dikenal tekun dan bertanggung jawab, Aqilah
mendapatkan amanah yang cukup besar dalam kegiatan ini. Tidak hanya menjalani
rutinitas KKN pada umumnya, ia juga terlibat aktif dalam berbagai program yang
langsung bersentuhan dengan masyarakat. Hal ini menjadi tantangan sekaligus
pembelajaran penting baginya selama kurang lebih satu bulan penuh bersama
rekan-rekan satu tim di posko KKN.
Selama KKN, Aqilah dipercaya
memegang tanggung jawab di bagian konsumsi. Setiap harinya, ia menentukan menu
makan untuk pagi dan malam hari, kemudian membantu teman-teman yang mendapat
jadwal piket dari Senin hingga Minggu. Bahkan, ia kerap berangkat subuh ke
pasar Tajinan yang terletak di bawah desa Karangnongko untuk membeli bahan
makanan. Tugas ini bukan pekerjaan ringan, sebab harus memikirkan kebutuhan
banyak orang sekaligus memastikan makanan tetap terjaga kualitas dan
kesehatannya. Namun, berkat kegigihan dan sifat tanggung jawab yang
dimilikinya, semua dapat terkoordinasi dengan baik.
Selain mengurus konsumsi, Aqilah
juga diberi peran penting dalam program kerja (proker) calistung, yaitu
kegiatan belajar membaca, menulis, dan berhitung bagi anak-anak PAUD, TK,
hingga SD. Program ini dilaksanakan dua kali dalam seminggu, tepatnya setiap
hari Senin dan Selasa. Di sini, Aqilah menjadi penanggung jawab utama,
memastikan anak-anak mendapatkan pembelajaran yang sesuai dengan usianya. Peran
ini membuatnya semakin dekat dengan masyarakat, khususnya anak-anak di desa,
sekaligus memberikan kesempatan untuk berkontribusi langsung terhadap
pendidikan dasar mereka.
Proker calistung yang dipimpinnya
berjalan dengan lancar. Aqilah tidak bekerja sendirian, sebab teman-teman KKN
lainnya juga ikut turun tangan membantu agar kegiatan berjalan sesuai rencana.
Dukungan penuh dari rekan-rekan satu tim menjadi kekuatan tersendiri, sehingga
suasana belajar menjadi menyenangkan baik bagi anak-anak maupun mahasiswa.
Alhamdulillah, hingga akhir pelaksanaan, program ini tidak mengalami hambatan
berarti. Satu-satunya tantangan mungkin dirasakan oleh mahasiswa non-jurusan
pendidikan yang harus beradaptasi dengan tingkah laku anak-anak yang
membutuhkan kesabaran ekstra. Meski begitu, semua tetap teratasi dengan baik.
Keberhasilan proker calistung
tentu tidak lepas dari strategi yang diterapkan. Aqilah berbagi tips suksesnya,
antara lain dimulai dari dasar dengan mengajarkan huruf dan angka secara
bertahap serta berulang. Ia juga menekankan pentingnya belajar sambil bermain
dengan aktivitas menyenangkan agar anak-anak tidak mudah bosan. Selain itu,
pemberian apresiasi kecil berupa pujian juga dianggap penting untuk memotivasi
anak agar terus semangat belajar. Dengan cara sederhana namun konsisten ini,
anak-anak lebih antusias dalam mengikuti setiap pertemuan.
Selama menjalankan proker
calistung maupun konsumsi, Aqilah bersyukur tidak pernah menghadapi perbedaan
pendapat yang berarti dengan teman-temannya. Semua lebih banyak berjalan dalam
suasana diskusi yang sehat, saling memberi saran dan solusi. Kerjasama tim
menjadi modal besar dalam menyukseskan kegiatan KKN. Setiap anggota memiliki
kontribusi masing-masing, dan semuanya menghargai peran satu sama lain. Rasa
kebersamaan inilah yang membuat KKN semakin berkesan dan penuh makna.
Namun, KKN bukan tanpa cerita suka
dan duka. Menjelang akhir kegiatan, tepatnya lima hari sebelum penutupan,
banyak anggota tim posko yang jatuh sakit. Kondisi ini membuat Aqilah harus
menambah jumlah menu masakan, misalnya menyediakan sayur bening dan minuman
jahe hangat agar teman-temannya merasa lebih sehat. Meski cukup melelahkan,
semua tetap terlewati dengan baik berkat saling membantu. Beberapa teman juga
dibawa berobat ke klinik hingga akhirnya pulih. Peristiwa ini menjadi salah
satu kenangan yang tak terlupakan, memperlihatkan betapa eratnya ikatan
persaudaraan di antara mereka.
Kini, ketika KKN resmi ditutup,
Aqilah merasa waktu berlalu begitu cepat. Ada rasa sedih harus berpisah dengan
teman-teman yang selama ini sudah seperti keluarga sendiri. Banyak cerita yang
tersimpan, mulai dari kerja sama, tawa, lelah, hingga kebersamaan yang sulit
diulang. Aqilah berterima kasih atas semangat, dukungan, dan kebersamaan yang
terjalin selama KKN. Ia berharap silaturahmi ini akan terus terjaga meski
kegiatan telah usai. Baginya, pengalaman indah di Desa Karangnongko bukan
sekadar program akademik, tetapi bekal berharga untuk menghadapi masa depan.

0 Komentar