Berita Terbaru

6/recent/ticker-posts

TRADISI PADIKI MAWINE: Melamar Gadis Pujaan dari Sumba Barat

Oleh: Lidia Nora Putarato / Prodi PPKn

Halo sahabat ! Apa kabar ? Bacanya sambil santai yah, teman-teman akan mengetahui mengenai fakta yang bisa membuat kaget atau bahkan berfikir dua kali untuk mendekati wanita idaman yang berasal dari Sumba. Haaah Mau mendekati wanita Sumba?

Sebelum terlalu jauh maka tentu tidak salah dong jika kita mengetaui adat apa yang nantinya dipakai saat prosesi lamaran hingga pengucapan janji suci sehidup semati. Pada artikel kali ini saya akan membahas mengenai melamar gadis (Padiki Mawine dalam bahasa Sumba) Sumba Barat khususnya Kecamatan Loli. 

Baca Juga: Mengulik Suksesnya PT. Amerta Indah Otsuka

Seperti apa sih prosesi Padiki Mawine (melamar gadis) pujaan ini? Salah satu ritual adat yang menjadi ciri khas dari Sumba Barat Kecamatan Loli yaitu Padiki Mawine, jika menyukai gadis Sumba maka alangkah baiknya jika pria tersebut harus mengetahui terlebih dahulu langkah-langkah melamar perempuan secara adat. Karena ritual adat ini merupakan sebuah keharusan untuk dapat meminang gadis Sumba. 

Untuk melamar perempuan secara adat Sumba Barat di tandai dengan tiga (3) langkah utama yaitu; (1) seorang pria saat meminang sang gadis pujaan, maka pihak pria harus menyiapkan siri dan pinang, sebatang tombak adat, sebatang parang dan seekor kuda yang harus dibawa bersama seorang jubir (juru bicara). Tentu saja jubir ini sudah memperoleh kesepakatan dari kedua orang tua dari pihak laki-laki. 

Baca Juga: Masa Keemasan Sarjana

Langkah ke (2) juru bicara akan berangkat bersama si pria menuju ke rumah gadis yang akan di pinang. Sesampainya mereka di sana, jubir dari pihak pria langsung menyampaikan maksud dan tujuan datang ke rumah dan menemui kedua orangtua gadis tersebut, tentu saja membahas tentang melamar dalam bahasa Sumba (Weri Kawedo). 

Setelah pertemuan tersebut, bukan berarti lamaran langsung di terima atau di setujui oleh orang tua si gadis, tentunya keluarga perempuan akan memanggil juru bicara (pihak keluarga yang ditunjuk) dan menanyakan maksud dan tujuan kedatangan dari dari pihak pria itu ke rumah pihak perempuan. Juru bicara dari pihak perempuan akan menanyakan kepada juru bicara pihak laki-laki, kemudian juru bicara pihak laki-laki akan menyatakan bahwa kedatangan mereka ke sana dengan tujuan melamar anak gadis mereka, sambil memberikan siri dan pinang beserta sebatang tombak atau parang dan seekor kuda.

Baca Juga:  Sejarah Kearifan Lokal Pasola

Selanjutnya keluarga perempuan akan menanyatakan siapa nama gadis yang akan di lamar. kemudian si laki-laki akan menyebutkan (gadis idaman) itu bernama, misalnya Magi (nama mereka dalam adat Loli). Kemudian, pihak perempuan akan menanyakan kepada Magi, apakah Magi menerima atau menyetujui apa yang menjadi tujuan kedatangan pihak laki-laki. 

Jika, Magi menyatakan terima atau setuju, maka keluarga perempuan akan membalas dengan selembar kain dan selembar sarung adat yang di satukan di atas piring lalu diberikan kepada keluarga laki-laki, dan jangan lupa juga seekor babi, dengan jawaban tersebut tentu saja pihak laki-laki akan merasa senang dan bangga. Mengenai seserahan pihak perempuan berupa satu ekor babi, pihak laki-laki tidak akan membawa pulang babi tersebut dalam keadaan hidup, untuk itu sebelum dibawa pulang maka di sembelih terlebih dahulu karena sesuai dengan hukum adat yang ada di Sumba tidak baik jika di bawa pulang dalam keadaan hidup. 

                                           Ilustrasi: Gambar Padiki Mawine

Langkah ke (3) juru bicara akan membahas atau menentukan kapan waktu untuk membayar belis (mahar). Untuk memberikan kelonggraran kepada pihak pria waktu  pembayaran belis kisaran waktu 6 bulan hingga satu tahun. Dengan rentang waktu tersebut pihak laki-laki akan mengadakan “kumpul tangan” dengan mengundang sejumlah orang terkait dengan belis tersebut, misalnya pihak pria mengundang 100 sampai 300 orang, tentu saja untuk membantu meringankan belis tersebut. Bantuan tersebut dapat berupa kuda, kerbau, sapi, parang, tombak, dan bahkan dalam bentuk uang. 

Jika jumlah belis  seperti kerbau, kuda, sapi dan sebagainya sudah mencukupi, maka sesuai waktu yang sudah di tentukan akan di bawa ke rumah sang gadis pujaan dengan di iringi rombongan dari pihak laki-laki. Langkah ketiga di sini tentunya akan terjadilah tawar menawar dengan tata krama yang di baik dan santun. 

Baca Juga: Guru Harus Multi Talenta

sampai kepada penyelesaiannya si perempuan akan pindah secara hukum adat ke rumah si laki-laki. Tetapi jangan salah, pihak perempuan juga tentunya harus mempersiapkan babi bertaring, gelang gading serta sarung dan kain bahkan sejumlah perabot rumah tangga untuk di bawa pulang oleh pihak laki-laki dan si gadis. 

Saat pindah adat ini akan di iringi dengan rombong dari pihak laki-laki dan pihak perempuan untuk mengantarkan gadis tersebut ke rumah pihak laki-laki dengan nyanyian sebagai bentuk kebahagiaan. Jadi, saat melamar gadis Sumba perlu di persiapkan dengan matang agar tidak terjadi masalah baik kekurangan hewan ataupun perbedaan pendapat antara pihak laki-laki dan pihak perempuan. 

Dalam menentukan jumlah belis juga akan di sesuaikan dengan jenjang pendidikan maupun pangkat si perempuan, dan yang paling penting adalah belis utuk si gadis tersebut tidak boleh melebihi jumlah belis saat meminang ibunya dahulu. Jika masih penasaran dengan tradisi dan adat istiadat Sumba, ayo datang dan saksikan sendiri betapa indahnya tradisi Sumba Padiki Mawine dan tradisi-tradisi lainnya.

*Disunting oleh, Naim, M.Pd


Simak juga: 

  1. Hukum bisnis
  2. Membuat akun google scholar
  3. Kepemimpinan
  4. Cara mudah dowload artikel
  5. Perbedaan jurnal dan artikel

Posting Komentar

3 Komentar