![]() |
Rosalia Yolanda
Ekaputri / Manajemen |
Fundamen Cendikia Bangsa - Rosalia Yolanda
Ekaputri, mahasiswi asal Malang yang berzodiak Pisces, baru saja menyelesaikan
kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) bersama kelompoknya. Dalam kegiatan ini, ia
dipercaya untuk memegang tanggung jawab sebagai Bendahara 2. Tugas tersebut
tidak hanya menuntut ketelitian dalam mengatur keuangan, tetapi juga
menumbuhkan rasa tanggung jawab yang lebih besar. Bagi Rosalia, pengalaman ini
menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan akademik sekaligus kehidupan
sosialnya, karena KKN bukan hanya tentang program kerja, melainkan juga tentang
bagaimana membangun relasi dengan masyarakat dan belajar menghadapi dinamika
kelompok.
Secara umum, program kerja yang dijalankan kelompok Rosalia
bisa dikatakan berjalan dengan lancar. Namun, keberhasilan itu tidak datang
tanpa hambatan. Hampir di setiap program kerja, selalu ada kendala yang muncul,
baik dari segi teknis maupun non-teknis. Meski demikian, semangat kebersamaan
anggota kelompok membuat mereka mampu menyelesaikan setiap kegiatan sesuai
target. Hal inilah yang membuat Rosalia merasa bahwa KKN bukan sekadar
rutinitas akademik, tetapi pengalaman hidup yang penuh pelajaran tentang kerja
sama, komunikasi, dan manajemen konflik.
Kendala terbesar yang dihadapi kelompok Rosalia adalah
masalah komunikasi internal. Pada awalnya, alur komunikasi dalam kelompok
sangat tidak terarah dan terpusat hanya pada kordes serta wakordes. Informasi penting
tidak mengalir secara merata ke pengurus inti, penanggung jawab program, maupun
anggota lain. Situasi ini menciptakan jarak antaranggota, sehingga banyak yang
merasa kontribusinya tidak dihargai. Akibatnya, miskomunikasi sering terjadi,
menyebabkan pembagian tugas menjadi kabur, tujuan program kerja tidak jelas,
dan eksekusi di lapangan kurang maksimal. Energi kelompok sering terkuras bukan
untuk fokus ke program, melainkan untuk membereskan kesalahpahaman yang muncul.
Seharusnya, setiap program kerja diawali dengan rapat
persiapan yang matang dan diakhiri dengan rapat evaluasi sebagai bahan
pembelajaran. Namun, kenyataannya mekanisme ini jarang dilakukan. Dalam
pengalaman Rosalia, kelompoknya hanya satu kali mengadakan rapat proker yang
terstruktur, yaitu saat menjalankan program terakhir mereka yang bernama GADAI.
Begitu pula dengan rapat evaluasi yang hanya terlaksana sekali. Hal ini
memperkuat pendapat Rosalia bahwa komunikasi yang minim dalam kelompok menjadi
akar dari berbagai persoalan, sekaligus pelajaran penting yang harus diperbaiki
dalam kegiatan serupa di masa depan.
Meski begitu, keberhasilan program kerja tidak bisa
dilepaskan dari semangat gotong royong yang ditunjukkan seluruh anggota.
Rosalia menegaskan bahwa suksesnya program bukanlah hasil kerja individu,
melainkan buah dari kebersamaan yang luar biasa. Ia menyaksikan sendiri
bagaimana setiap orang selalu siap membantu tanpa rasa iri atau pamrih.
Semangat tulus untuk saling menolong menjadi kekuatan terbesar kelompok mereka.
Berkat itu, setiap kendala bisa diubah menjadi pengalaman berharga, dan program
kerja yang dijalankan mampu mencapai hasil yang diharapkan.
Dalam dinamika kelompok, perbedaan pendapat tentu tidak
bisa dihindari. Rosalia mengakui bahwa teman-temannya cenderung enggan
menyampaikan perbedaan pendapat, sedangkan dirinya justru cukup vokal. Ia
beberapa kali tidak sependapat dengan kordes maupun wakordes, terutama mengenai
lemahnya komunikasi di internal pengurus. Saat evaluasi, Rosalia menyampaikan
secara langsung kritik tersebut. Namun, jawaban dari kordes dan wakordes yang
seolah tidak tahu-menahu justru membuatnya kesal. Dari momen itu, Rosalia mulai
dikenal dengan julukan “kecil-kecil cabe rawit” karena sikapnya yang berani
bersuara meski berpostur mungil.
KKN juga meninggalkan kesan mendalam bagi Rosalia. Baru
sehari setelah kegiatan resmi ditutup, rasa rindu sudah begitu terasa.
Kebersamaan yang selama ini terjalin harus berakhir mendadak karena
masing-masing anggota kembali ke kesibukan semula. Suasana penuh canda, kerja
sama, bahkan perdebatan kecil, kini hanya tersisa dalam kenangan. Bagi Rosalia,
perpisahan ini begitu berat karena mereka sudah terbiasa bersama, saling
melengkapi, dan tumbuh sebagai satu tim.
Sebagai penutup, Rosalia menyampaikan rasa terima kasih yang
mendalam kepada dosen pembimbing lapangan mereka, Pak Naim. Menurutnya,
keberadaan Pak Naim menjadi faktor penting yang membuat kelompok tetap berjalan
meski banyak kendala menghadang. “Kalau bukan karena Pak Naim, mungkin kelompok
kami tidak tahu akan jadi seperti apa,” ucapnya. Dengan segala suka duka yang
dialami, pengalaman KKN ini menjadi bagian berharga dalam hidup Rosalia, sebuah
perjalanan yang tidak hanya mengasah keterampilan, tetapi juga memperkaya hati
dan pikiran.

0 Komentar